Makam Keramat Pengantin Kemayoran

Cerita Rakyat

banner 468x60

Kemayoran di masa itu bukanlah tempat ramai seperti sekarang. Hanya hamparan sawah, rawa, dan kebun yang mengelilingi kampung-kampung kecil. Di antara kampung itu, tinggallah seorang gadis bernama Saidah, bunga desa Kemayoran yang kecantikannya tersohor hingga ke pelosok Batavia.

Saidah bukan hanya elok parasnya. Lembut tingkah lakunya, halus budi pekertinya, dan suaranya yang merdu membuat siapa pun yang berjumpa dengannya jatuh hati. Tak heran jika banyak pemuda kampung yang menaruh hati, namun tak satu pun yang berani mendekat, sebab mereka tahu hati Saidah seteguh batu karang.

Hingga suatu hari, rombongan bangsawan dari Kesultanan Cirebon datang ke Batavia. Di antara mereka, ada seorang pangeran muda bernama Pangeran Syarif. Parasnya tampan, tutur katanya lembut, dan matanya tajam meneduhkan. Saat pertama kali bertemu di pasar, tatapan Saidah dan Pangeran Syarif saling bertaut. Sejak saat itu, cinta mereka bersemi.

Cinta mereka ibarat angin segar yang membawa kebahagiaan ke kampung itu. Pangeran Syarif melamar Saidah dengan cara terhormat, dan orang tua Saidah pun menerima dengan penuh suka cita. Kampung pun bersiap menyambut hari besar itu—hari pernikahan dua sejoli yang dianggap pasangan serasi dari langit.

Namun, kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Tuan Tanah Belanda, penguasa zalim yang rakus, mendengar kabar pernikahan tersebut. Ia memang sudah lama mengincar Saidah, berniat menjadikannya milik pribadi. Murka dan cemburu, ia menyusun rencana licik untuk merebut Saidah.

Dengan kekuasaan yang ia miliki, Tuan Tanah mengancam akan menggagalkan pernikahan itu. Ia mengutus centeng-centengnya untuk membawa Saidah paksa, bahkan berencana menghabisi Pangeran Syarif. Namun, Pangeran Syarif bukanlah orang yang mudah ditaklukkan. Ia memilih untuk melawan.

BACA JUGA :  Potensi Kemayoran Menjadi Pusat Peradaban Betawi Modern

Hari itu, tepat di tengah kemeriahan persiapan pernikahan, Pangeran Syarif dan para pendukungnya menghadapi Tuan Tanah dan gerombolan centengnya. Pertempuran tak terelakkan. Di tengah tanah lapang, senjata beradu, teriakan bergema, dan debu beterbangan.

Pangeran Syarif bertarung dengan gagah berani, tubuhnya dipenuhi luka, namun ia tak gentar. Saidah, yang tak kuasa melihat kekasihnya bertarung sendirian, turut melangkah ke tengah pertempuran, memeluk Pangeran Syarif dalam dekapan terakhir.

Pada akhirnya, takdir berkata lain. Di bawah langit sore Kemayoran, darah cinta mereka tumpah di tanah. Keduanya gugur, dalam pelukan, di hari di mana mereka seharusnya bersanding sebagai suami-istri.

Masyarakat yang menyaksikan tragedi itu, dengan hati pilu, menguburkan Saidah dan Pangeran Syarif berdampingan. Makam mereka kemudian disebut sebagai Makam Keramat Pengantin. Warga percaya, cinta sejati mereka begitu suci hingga makam itu membawa berkah bagi siapa saja yang datang dengan niat tulus, terutama untuk memohon jodoh.

Tahun demi tahun berlalu, namun kisah mereka tetap hidup. Hingga suatu hari, di awal abad ke-20, pemerintah kolonial Belanda memulai pembangunan besar-besaran di Kemayoran. Sawah dan kebun digusur, kampung-kampung tergusur, dan makam-makam tua ikut rata bersama tanah.

Termasuk Makam Keramat Pengantin.

Bandara megah berdiri di atas tanah yang dulu menjadi saksi bisu cinta tragis itu—Bandar Udara Kemayoran. Sejak saat itu, makam tersebut hilang tanpa jejak. Namun, sebagian warga percaya, arwah Saidah dan Pangeran Syarif tetap menjaga tanah itu.

Hingga kini, saat malam-malam sunyi, konon, dari sela-sela gedung-gedung tinggi yang berdiri di bekas bandara itu, kadang terdengar samar-samar suara gending pernikahan, atau lantunan doa pelayat yang terbawa angin.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *